Menguak Cinta Rahasia antara Israel dan Singapura

Herry-Nurdi

Oleh: Herry Nurdi

Mungkin tidak banyak yang tahu peran Israel saat awal berdirinya negara Singapura, negara kecil yang kini menjadi salah satu negara paling stabil dan kuat di Asia. Peran Israel itu terutama dalam membangun kekuatan militer negara itu, sehingga perlahan tapi pasti, membuat Singapura memiliki kekuatan militer yang cukup tangguh dengan peralatan militer canggih. Herry Nurdi penulis yang sudah menerbitkan buku tentang Zionisme dan buku berjudul “Nge-fans sama Rasul” ini, menelusuri apa dan bagaimana keterlibatan Israel dalam membangun kekuatan militer Singapura. Hasil penelusurannya bisa pembaca ikuti dalam tulisannya berikut ini, yang akan kami publikasikan secara bersambung. Selamat membaca….
Bagian dari Gerakan Zionisme Internasional
Pada tahun-tahun 1960-an awal dirintisnya keterlibatan Israel dan Yahudi untuk turut membangun negara yang baru mulai berdiri, Singapura. Pada awal tahun 1965, ketika di Indonesia terjadi gejolak PKI, di Malaysia juga terjadi sebuah gejolak yang kelak mengantarkan lahirnya sebuah negara baru, Singapura. Dalam penuturannya, Lee Kuan Yew mengatakan bahwa ada beberapa hal yang menjadi konsentrasinya pada awal-awal berdiri Singapura.
Pertama, tentu adalah pengakuan internasional atas lahirnya negara baru ini. Dan untuk membantunya mengatasi masalah yang satu ini ia memilih Sinnathamby Rajaratnam menjadi Menteri Luar Negeri, seorang yang disebut Lee Kuan Yew sebagai seorang yang anti penjajahan tapi bukan seorang yang radikal. Rajaratnam pula yang menyiapkan segala kebutuhan untuk hajatan bulan September 1965, di markas PBB di New York, sebuah presentasi negara baru.
Hal kedua terbesar yang menjadi perhatian Lee Kuan Yew adalah masalah keamanan dan pertahanan. Pada awalnya ia hanya memiliki dua batalion pasukan, itupun berada dalam komando seorang brigadir dari Malaysia, Brigadir Syed Muhammad bin Syed Alsagoff yang menurut Lee seorang Arab Muslim dengan kumis yang siap setiap saat mengambil alih negara Singapura. Ia harus menyiapkan angkatan bersenjata dan sistem pertahanan dalam waktu dekat, untuk menghadapi kelompok-kelompok radikal, terutama beberapa pihak di Malaysia yang tak setuju dengan kemerdekaan Singapura. Kelompok yang satu ini, dipercaya akan mengganggu proses kemerdekaan Singapura, oleh Lee Kuan Yew.
Untuk mengatasi masalah pertahanannya, pada awalnya, Singapura meminta bantuan dan menghubungi Mesir untuk menyiapkan angkatan bersenjata. Tapi, Mesir tak segera memberikan jawaban yang pasti, padahal kebutuhan demikian mendesak untuk diselesaikan. Tapi sebenarnya, sebelum pemisahan terjadi, Israel telah menjalin hubungan dengan benih-benih founding fathers Singapura. Mordechai Kidron, duta besar Israel di Bangkok sejak tahun 1962 sampai 1963 telah mencoba untuk mendekati Lee Kuan Yew dan menawarkan jasa untuk menyiapkan pasukan bersenjata. Tapi saat ini, Lee Kuan Yew menolaknya dengan beberapa alasan, salah satunya adalah pertimbangan Tuanku Abdul Rahman dan masyarkat Muslim di wilayah Singapura yang kemungkinan tidak akan setuju. Dan jika mereka tidak setuju, menurut Lee, bisa memancing kerusuhan yang tidak terkendali dan merugikan bagi rencana kemerdekaan Singapura.
Tapi akhirnya, Lee melirik tawaran ini. Di saat yang sama, Lee Kuan Yew juga mengirim dan menunggu jawaban dari India dan Mesir. Ia mengirim surat ke Perdana Menteri India, Lal Bahadur Shastri dan Presiden Mesir, Gamal Abdul Nasser. Dari Mesir Lee Kuan Yew mendapat jawaban, bahwa Nasser menerima dan mengakui kemerdekaan negara Singapura, tapi tidak memberikan jawaban pasti atas permintaan bantuan militer. Dan itu yang memicu kekecewaan Lee Kuan Yew yang langsung memerintahkan untuk memproses proposal Israel untuk menyiapkan militer Singapura. Tokoh lain yang berpengaruh dalam hubungan Singapura-Israel adalah Goh Keng Swee. Lee Kuan Yew memerintahkan Keng Swee untuk menghubungi Mordechai Kidron, duta besar Israel yang berkedudukan di Bangkok pada tanggal 9 September 1965, hanya beberapa bulan setelah pemisahan Singapura dari Malaysia. Dan hanya dalam beberapa hari, Kidron telah terbang ke Singapura untuk menyiapkan keperluannya bersama Hezi Carmel salah seorang pejabat Mossad.
Bertahun-tahun kemudian Hezi Carmel dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa Goh Keeng Swee berujar kepadanya hanya Israel lah yang bisa membantu Singapura. Israel adalah negara kecil yang dikepung oleh negara-negara Muslim di Timur Tengah, tapi memiliki kekuatan militer yang kecil tapi kuat dan dinamik. Bersama Keng Swee, Kidron dan Hezi menghadap Lee Kuan Yew.
Perlu digarisbawahi di sini, bahwa proposal Israel yang telah diajukan sejak tahun 1960, adalah sebuah hasil dari kajian mendalam tentang masa depan Singapura dan percaturan politik di Asia Tenggara. Bukan Singapura yang aktif untuk meminta Israel masuk, tapi Israel lah yang pertama kali menawarkan diri agar bisa terlibat secara aktif di wilayah Asia Tenggara. Tentu saja ini bukan semata-mata kebetulan, tapi berdasarkan perencanaan yang matang dari gerakan Zionisme internasional. Menempatkan diri bersama Singapura, sama artinya menjadi satelit Israel dan kekuatan Yahudi di Asia Tenggara.
The Mexicans
November 1965, tim kecil dari Israel yang dikomandani Kolonel Jak (Yaakov) Ellazari tiba di Singapura (kelak ia dipromosikan pangkatnya menjadi Brigadir Jenderal, bahkan setelah pensiun pun ia menjadi salah satu konsultan senior untuk masalah-masalah pertahanan dan keamanan bagi Singapura). Dan disusul oleh tim yang lebih besar lagi pada bulan Desember 1965. Mereka menggunakan kata sandi The Mexicans untuk membantu Singapura.
Kedatangan tim The Mexicans ini sebisa mungkin dirahasiakan dari sorotan publik. Maklum, Singapura adalah negara muda yang dikeliling oleh negara-negara Muslim seperti Indonesia, Malaysia, dan juga Thailand. Lee Kuan Yew juga tidak ingin menimbulkan perdebatan di antara penduduk Singapura yang Muslim.
Pada saat yang sama dengan perintisan ini, Israel sendiri telah menyiapkan bantuan militernya langsung ke Singapura berdasarkan order dari Kidron dan Hezi Carmel. Tokoh-tokoh penting Israel yang turun berperan mengambil keputusan pembangunan militer Singapura ini adalah Yitzhak Rabin, kepala staff pemerintahan Israel kala itu, Ezer Weizmann dan juga Mayor Jenderal Rehavam Ze’evi, yang kelak menjadi menteri perumahan Israel dan tewas karena serangan Hamas pada tahun 2001.
Ze’evi sendiri yang menjadi pimpinan proyek dan terbang ke Singapura dengan nama samaran Gandhi. Rehavam Ze’evi yang telah menggunakan nama Gandhi berjanji akan membangun kekuatan militer Israel sebagai kekuatan militer yang belum pernah ada di wilayah Asia Tenggara. Dengan dibantu oleh Ellazari dan Letnan Kolonel Yehuda Golan, Ze’evi mulai bekerja. Salah satu yang dibangun dengan serius adalah buku panduan yang diberi nama “Brown Book” atau Buku Coklat, blue print buku panduan militer Singapura yang benar-benar dibuat Israel.
Buku Coklat adalah buku panduan untuk perang langsung atau combat. Setelah buku ini selesai, buku panduan lanjutannya digarap pula dengan nama sandi Buku Biru atau “Blue Book” yang mengatur segala macam strategi pertahanan dan gerakan intelijen. Buku Coklat diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan segera dikirim ke Singapura dari Israel.
Tanggal 24 Desember 1965, enam orang perwira Israel tiba di Singapura. Mereka mengemban dua tugas yang berbeda. Tim perwira pertama bertugas untuk membangun dan membentuk kementerian pertahanan Singapura, tim ini dipimpin oleh Kolonel Ellazari. Dan tim kedua, yang dipimpin oleh Yehuda Golan bertugas untuk menyiapkan pasukan bersenjata. Persiapan pasukan bersenjata ini pada mulanya merekrut 40 sampai 50 orang yang telah memiliki pengalaman di bidang militer untuk dilatih lebih lanjut.

Terkuat di Asia Tenggara
Tapi kini, kekuatan yang berasal dari 40 – 50 orang yang dibangun oleh Israel itu telah menjelma menjadi kekuatan militer terbesar di Asia Tenggara, bahkan mengalahkan Indonesia. Anggaran militer Singapura itu 4,4 milyar dolar US. Jauh sekali dibanding dengan Indonesia. Mereka juga punya industri militernya sendiri. Jadi tidak melulu bergantung pada negara-negara asing produsen senjata. Sama persis dengan Israel. Israel, meski dia juga bergantung pada negara produsen senjata dari Barat, tapi dia juga membangun persenjataan mereka sendiri. Singapura sudah bisa membuat dari senjata ringan, mesin hingga artileri, mereka sudah mampu membuat sendiri.
Angkatan bersenjata Singapura, keseluruhan, berjumlah 60.500 pasukan. Jauh di bawah Indonesia. Jumlah itu sudah termasuk 39.800 wajib militer dengan masa dinas 24 sampai 30 bulan. Tapi mereka juga memiliki pasukan cadangan berjumlah 213.800. Jadi, jumlahnya meliputi seluruh penduduk dan populasi Singapura.
Singapura benar-benar telah menjalankan total defense war. Mereka punya wajib militer untuk seluruh penduduk, setiap saat semua warga negara Singapura bisa dimobilisasi, dipersenjatai.
Setiap penduduk Singapura itu sudah ada registrasi militernya, kepangkatannya. Ketika terjadi ancaman atau serangan, maka mereka per daerah atau per wilayah sudah bisa langsung melapor dan bergabung pada markas-markas yang sudah ditentukan. Orang-orang sipil itu tahu pangkat mereka apa, berapa anak buahnya dan tugasnya apa. Bahkan senjatanya pun sudah disetor di masing-masing markas. Ini benar-benar seperti konsep Israel, bahwa semua penduduk dewasa adalah tentara. sipil yang militer. Bukan militer yang membangun supremasi di atas sipil.
Angkatan Darat mereka memiliki 50.000 pasukan, tidak terlalu banyak. Angkatan Laut 4.500 dan Angkatan Udara 6.000. Tapi yang menarik adalah, Singapura itu punya Forces Abroad, pasukan-pasukan yang di tempatkan di luar negeri. Bukan pasukan untuk misi internasional, tapi pasukan Singapura sendiri, kebanyakan adalah Angkatan Udara.
Singapura menempatkan pasukannya di Perancis, Australia, Brunei, Afrika Selatan, Taiwan, Thailand dan Amerika. Penempatan pasukan itu disertai dengan penempatan pesawat tempur, pesawat pengintai tanpa awak sampai pesawat pengisi bahan bakar di udara yang kebanyakan di parkir di Amerika.
Kalau dibandingkan dengan kekuatan militer Indonesia? Jauh sekali. Seandainya Indonesia membom Singapura, mereka bisa membalas dengan lebih kuat lagi dari yang bisa dilakukan Indonesia. Jika sekarang kita terbang dengan pesawat komersial ke Singapura butuh waktu 1 jam 20 menit. Tapi kalau untuk melakukan serangan pre-emptif strike, Singapura hanya butuh waktu kurang dalam 30 menit.
Didikan Israel yang sangat disiplin memang menghasilkan kekuatan yang bukan main. Salah satu disiplin yang diterapkan Israel pada para kadet Singapura adalah bangun pukul 5.30 untuk memulai aktivitasnya. Bahkan salah seorang kadet pernah membantah dan memberikan alasan kepada kolonel Golan dengan mengatakan, “Kolonel Golan, orang-orang Arab tidak ada di sini dan tidak akan menduduki kepala kita. Mengapa kita melakukan latihan segila ini?” Dan menjawab komplain para kadet itu, Goh Keng Swee memerintahkan para kadet itu untuk melakukan apa yang diperintahkan Kolonel Golan, jika tidak, mereka akan melakukannya lebih berat lagi. Hanya dalam setahun, latihan yang dibangun oleh Israel ini telah menghasilkan 200 komandan militer yang terlatih.
Selain kekuatan militer darat, Israel juga merancang strategi combating water bagi Singapura. Pada awalnya, mereka membuat sebuah sampan yang mampu mengangku 10 sampai 15 anggota pasukan untuk patroli laut bahkan ke rawa-rawa. Kekuatan tempur laut yang dibangut oleh Israel memang disiapkan untuk menghadapi negara-negara maritim seperti Indonesia dan Malaysia.

Balas Jasa buat Israel
Pada tahun 1967, pecah Perang Enam Hari antara Israel dan negara-negara Arab. Pecahnya perang ini membuat tim Israel di Singapura sempat ketar-ketir, sebab, moral pasukan yang mereka bangun di Singapura bisa saja habis sampai ke dasar cawan jika Israel menderita kekalahan perang. Namun, seperti yang tercatat dalam sejarah, Israel menang mutlak melawan negara-negara Arab dalam Perang Enam Hari tersebut.
Bisa dipahami, kekuatan dan sistem militer Israel di banding negara-negara Arab lainnya, jauh berada di depan. Kemenangan itu pula yang mengantar disepakatinya perjanjian rahasia pembelian 72 Tank AMX-13 light dari Israel yang konon kelebihan produksi. Pembelian dengan diskon ini cukup mengagetkan, pasalnya, pada tahun itu, Malaysia sendiri tak memiliki satu tank-pun.
Dan Singapura memang sengaja menyisakan kejutan tersendiri untuk hal ini. Pada peringatan kemerdekaan, 9 Agustus 1969, dalam parade militer para undangan dikejutkan dengan pameran kekuatan Singapura. Termasuk Menteri Pertahanan Malaysia yang diundang untuk menyaksikan 30 tank buatan Israel yang merayap di jalanan. “Sungguh momen yang dramatis,” ujar Lee mengenang saat itu.
Dan sejak itu pula, terbuka secara umum hubungan Israel dan Singapura. Berikutnya adalah balas jasa yang harus diberikan Singapura pada Israel. Pada sidang umum PBB tahun 1967, negara-negara Arab mensponsori resolusi untuk menveto Israel. Tapi delegasi Singapura yang hadir pada waktu itu menyatakan diri abstain sebagai tanda satu barisan dengan Israel.
Selanjutnya, pada tahun Oktober 1968, Lee Kuan Yew menyetujui pembukaan perwakilan dagang Israel di negara tersebut. Setahun berikutnya, secara resmi tahun Mei 1969, Lee memberikan izin pada Israel untuk membuka kedutaannya di Singapura.
Kondisi yang berlainan terjadi di Indonesia. Dari tahun ke tahun, Indonesia yang menjadi negara besar tetangga Singapura kian tak menentu nasib strategi pertahanan dan militernya. Kondisi itulah yang membuat posisi tawar Singapura pada Indonesia meningkat, bahkan terkesan arogan. Indonesia saat ini berada pada masa transisi yang membuat posisinya lemah.
Pada zaman Soeharto yang kuat, mereka susah untuk mempengaruhi atau masuk lebih jauh ke dalam kebijakan Indonesia secara politis maupun dari sisi supremasi militer. Kekuatan militer di Indonesia masa jayanya ada di bawah Soekarno. Ketika Soeharto berkuasa dengan sistem junta militernya, tidak ada perhatian secara khusus untuk membangun militer Indonesia secara profesional. Seperti kebanyakan rezim pemerintah junta militer, konsentrasi mereka terpecah-pecah untuk mematai-matai rakyatnya sendiri, mengontrol kekuatan politik lawan di dalam negeri, dan itu berakibat tidak terbangunnya militer Indonesia yang profesional. Sekarang ini baru kita melihat hasil ketidak profesionalan itu.
Dulu, Indonesia, menurut Ken Conboy dalam bukunya yang berjudul Kopassus, bisa disebut sebagai negara dengan kekuatan militer terbesar di Asia Tenggara. Sebagai perbandingan, pada sidang parlemen Singapura tahun 1999 terkuak sebuah informasi, bahwa negara ini menghabiskan sekitar 7,27 milyar dolar dalam setahun, atau sekitar 25% dari anggaran belanja negara untuk alokasi pertahanan. Dan pada tahun 2000, menurut laporan Asian Defense Journal, tak kurang Singapura memiliki empat F-16B, 10 F-16D fighters, 36 F-5C fighters, dan delapan F-5T fighters.
Sedangkan Indonesia, kini hanya memiliki enam F-16, itupun tak semuanya bisa dan layak terbang karena terus-menerus melakukan kanibalisasi untuk perbaikannya. Dan pada pemerintahan Megawati, terjadi pembelian pesawat tempur Sukhoi, tapi itu pun tak sesuai dengan kebutuhan Indonesia. Pesawat Sukhoi yang dibeli oleh Departemen Perdagangan itu dirancang untuk perang dan melawan tank yang di Indonesia sama sekali tidak dibutuhkan.
Bahkan saking unggulnya kekuatan Singapura yang dibangun oleh Israel ini, sampai-sampai Lee Kuan Yew membanggakan militernya jauh lebih efektif dari militer Amerika. Soal keamanan, menurut Lee Kuan Yew, Israel jauh lebih efektif dan hebat dibanding Amerika. Lee membandingkan kerja Israel di Singapura dan kerja Amerika di Vietnam. Pada Perang Vietnam Amerika tak kurang mengirimkan 3.000 sampai 6.000 ahli militernya ke Vietnam Selatan untuk membantu Presiden Ngo Dinh Diem yang menjadi kaki tangannya Paman Sam. Hasilnya?
Amerika dan kaki tangannya tetap tak bisa menang di Vietnam. Tapi dengan Singapura, Israel hanya mengirimkan sekitar 18 perwira-perwiranya untuk membangun angkatan bersenjata negara muda ini begitu kuat.

Hubungan Singapura-Israel: Ancaman Regional Asia Tenggara
Sejak saat itu berbagai kerjasama dalam jumlah besar tak hanya dalam bidang militer dan pertahanan, tapi juga ekonomi dan politik telah terjadi antara Israel dang Singapura. Dan tentu saja, pada tataran ekonomi dan politik, kekuatan Israel di Singapura telah pula merangsek negara-negara Muslim seperti Malaysia, Brunei dan Indonesia. Termasuk pembelian Indosat dan beberapa bank besar di Indonesia oleh Singapura, secara seloroh usaha aneksasi tersebut telah menjadikan Indonesia provinsi ke sekian dari Israel Raya.
Apalagi sejak Singapura menandatangani kesepakatan satelit mata-mata dengan Israel tahun 2000 lalu. Bisa jadi, tak sejengkal pun wilayah, khususnya area-area Muslim di Asia Tenggara lolos dari perhatian Israel. Tahun 2000 lalu, Israel, Singapura yang difasilitasi oleh Amerika Serikat meneken kontrak kerjasama dalam bidang satelit mata-mata senilai satu milyar dolar Amerika. Dan tentu saja untuk urusan keamanan.
Atas nasihat Israel pula kini Singapura punya interest yang kuat dalam perdagangan dan kerjasama yang dibentuknya untuk empat hal. Empat hal tersebut adalah di bidang komando, kontrol, komunikasi dan intelijen. Dan kini, lewat doktrin ini pula Singapura tak melepaskan kesempatan emas untuk membeli Indosat dari Indonesia.
Akankah Singapura dengan Israel di belakangnya kelak menjadi ancaman bagi negara-negara Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaysia, Brunei, Filipina dan Thailand yang notabene bisa disebut representasi negara Muslim? Jika kelak terbukti Singapura adalah ancaman, sesungguhnya tak mengherankan, sebab kini banyak signal dan indikasi yang menyebutkannya. Terlebih ketika isu terorisme menghantam Indonesia, Singapura menjadi corong paling dekat yang menyakitkan telinga warga Indonesia.
Tudingan Singapura terhadap Indonesia
Beberapa tahun lalu, Indonesia dibuat heboh oleh pernyataan Senior Ministry Singapore Lee Kuan Yew. Dalam pernyataannya yang dikutip harian The Strait Times, Singapura, Lee mengatakan, “Singapura tidak akan merasa aman selama teroris berkeliaran di Indonesia.”
Media massa menjadikan berita ini sebagai komoditi utama dalam pekan itu. Hampir semua media menurunkan laporan utamanya tentang komentar Mr. Lee. Agar lebih obyektif menulis tentang Singapura dalam catatan kali ini, beberapa saat lalu, penulis pernah menghubungi Profesor Bilveer Singh, Guru Besar Political Science di National University of Singapore. Saat dihubungi ternyata beliau sedang berada di New Delhi, India, membuka sebuah seminar dan konferensi politik.
Lebih dari satu jam penulis berbincang dengan Profesor Bilveer lewat telepon. Tentu saja yang menjadi inti perbincangan tersebut adalah pernyataan Mr. Lee.
Menurut Bilveer Singh, pernyataan Menteri Senior tersebut menjadi terasa sangat pedas karena memang dipedas-pedaskan oleh media massa. “Saya kira pernyataan Pak Lee itu biasa saja dan tidak tajam. Pak Lee justru membela Indonesia dalam pernyataannya.”
Lalu Bill, panggilan Profesor Bilveer, bercerita tentang latar belakang Lee Kuan Yew berkata demikian.
Beberapa waktu lalu, kepolisian Singapura, kata Bill, menangkap 18 orang yang berencana, bahkan sudah membeli sebanyak 21 ton TNT untuk meledakkan beberapa titik yang disebutnya sebagai tempat Israel dan Amerika di Singapura. Tapi ada lima orang lagi yang disebut-sebut melarikan diri ke Indonesia. Menurut Lee, kata Bill, pemerintah Indonesia sudah dihubungi tentang hal ini, tapi tidak menunjukkan respon yang berarti. Bill juga tak lupa memberi keterangan bahwa pelaku, semua pelaku itu adalah Muslim.
“Absolutely Pak, 100% Muslim Pak,” ujarnya dari seberang telepon.
Penulis sempat melakukan cross-check pernyataan larinya pelaku teror dari Singapura ke Indonesia pada Pak ZA Maulani, mantan KABAKIN di era presiden Habibie. Dalam obrolan dengan Pak Maulani yang kebetulan mampir ke kantor, penulis bertanya apakah mungkin yang diungkapkan Bill di atas.
“Nggak mungkin, mustahil itu,” jawabnya. Di Singapura, kata Pak Maulani, orang makan permen karet dan membuang, apalagi menempelkannya sembarang bisa ketahuan dan kena hukuman. Banyak turis yang ada di sana bermasalah dengan polisi setempat gara-gara di kantong mereka ditemukan buble gum.
Jika permen karet saya bisa diketahui, apalagi TNT yang bentuknya batang dan dalam jumlah yang tidak sedikit, 21 ton, maka tidak menutup kemungkinan ini adalah sebuah rekayasa. TNT dalam bentuk batangan pasti memerlukan beberapa kontainer untuk mengangkutnya. Saya jadi semakin curiga bahwa di balik ini ada operasi intelijen. Apalagi keterangan Pak Maulani tentang dokumen Jibril yang disebut sebagai pijakan pemerintah Singapura menindak dan menangkap 18 orang yang disebut sebagai teroris itu tidak valid dan bikinan pihak ketiga.
Tapi lagi-lagi, keterangan ini dibantah oleh Bill yang menyebutkan bahwa pemerintah Singapura telah melakukan penyelidikan mendalam. “Ini tidak mungkin operasi intelijen. Tidak Pak,” ujar Bilveer Singh.
Penulis tidak akan memperdalam informasi mana yang benar, tapi yang pasti, penulis menggaris bawahi kalimat Bill yang mengatakan, “100% Muslim Pak, absolutely.” Pernyataan itu bagi saya menjelaskan sesuatu, bahwa memang ada rencana yang memang sudah disiapkan entah oleh siapa untuk beberapa komunitas Muslim. Tentang hal ini, Bilveer sendiri mengakui memang ada sesuatu yang ia katakan sebagai rencana busuk. “Saya tahu benar bahwa Barat senang membusukkan Islam, kelompok Yahudi dan Kristen garis keras berusaha membusukkan Islam. Islam bagi mereka sama dengan teroris, ini bahaya Pak. Islam is peace,” kata Bilveer.

Perjalanan Panjang Singapura menjadi “Singa” di Asia

Singapura yang pada zaman Singasari kita sebut sebagai Tumasik, adalah sebuah negara dengan luas, tak lebih besar dari Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Sebuah negara nir sumber daya alam dan kekayaan bumi. Sebuah negara yang benar-benar tak bisa menggantungkan kehidupannya dengan kekayaan alam. Sir Thomas Stamford Raffles pada awal abad 19, tepatnya 1819 mulai merintis “kehidupan” di Tumasik. Raffles yang tahu Tumasik secara geografis menjadi perlintasan dagang internasional mulai menyewanya dari seorang pangeran Melayu.

Tahun berjalan, zaman berganti. Pada tahun 1942 tentara Dai Nippon mengalahkan sekutu di beberapa wilayah Asia, termasuk Indonesia, Malaysia, Kalimantan Utara (kini Brunei, red) dan juga Singapura. Peristiwa ini adalah salah satu kurun yang paling mengejutkan bagi Singapura yang sama sekali tak pernah menyangka Inggris kalah oleh tentara Matahari Terbit.

Jepang masuk ke Singapura pada 12 April 1942 dan mengganti namanya dengan Syonan, yang artinya Cahaya dari Selatan. Penamaan ini berkaitan pula dengan posisi strategis yang dimiliki Singapura. Sebuah pulau kecil yang nantinya akan menjadi negara dari selatan dan turut berperan besar dalam percaturan dunia. Mengapa Singapura diidentikkan sebagai selatan, sekedar informasi, karena memang selamanya penjajahan konon selalu datang dari utara. Coba saja perhatikan, dan sebagai tambahan bahan tentang Utara-Selatan ini bisa membaca novel Pramoedya Ananta Toer, Arus Balik.

Tapi Jepang tak lama-lama memegang kemenangan yang telah diraihnya. Setelah direbut kembali oleh Inggris, Singapura menjadi sebuah pulau tambang uang untuk melunasi utang-utang yang dimiliki Inggris. Tak hanya Singapura tepatnya, Malaysia dan Brunei pun terkeruk juga untuk melunasi utang yang diakibatkan perjanjian Lend and Lease Act, perjanjian pembayaran biaya sewa alat-alat perang pada Amerika. Tentang hal itu bisa dibaca di buku The Genesis of Malaysia Konfrontasi: Brunei and Indonesia 1945 – 1965 karya Greg Poulgrain.

Roda zaman terus bergulir dan Singapura pun menjadi negara mandiri setelah melepaskan diri dengan Malaysia pada tahun 1965. Lee Kuan Yew menjadi The Founding Father of Republic Singapore. Negara yang hanya memiliki garis pantai 150.5 kilo meter ini pelan-pelan tapi pasti menjadi negara yang berbeda dengan negara-negara di Asia Tenggara umumnya. Baik secara demografis, maupun sejara finansial. Secara demografis, etnis Cina menjadi mayoritas di negara ini dengan jumlah kurang lebih 75 persen dari total penduduk 3 juta. Sisanya 25 persen dibagi-bagi beberapa etnis, Melayu, Tamil dan juga India. Secara finansial, karena tidak memiliki sumber daya alam satu pun, orientasi ekonomi Singapura sejak awal mengarah pada industri jasa. Profit oriented inilah yang membuat Singapura membuka dirinya bagi siapa saja, atau negara mana saja yang ingin menanamkan modal dan bekerjasama.

Singapura tidak salah dalam hal ini. Singapura harus menggunakan cara ini sebab ia beda dengan Brunei yang melimpah sumber daya dan kekayaan alamnya. Satu-satunya cara agar Singapura eksis sebagai negara adalah membuka dirinya dan membangun besar-besaran industri jasa. Dan hal itu berhasil, selain karena Singapura memang strategis di jalur pasar dunia, ada beberapa hal lain yang membuatnya menarik di mata Israel dan Amerika.

Ya, dua negara itulah yang masuk Singapura dengan membawa segudang kepentingan. Ditambah lagi Singapura memang terobsesi dan menjadikan Israel sebagai negara model yang akan ia tiru dalam bidang keamanan dan pertahanan. Singapura menjadikan Israel sebagai model percontohan di bidang keamanan dan Switzerland sebagai model di bidang ekonomi. Sebab, Singapura dan Israel nyaris sama dalam bidang yang satu ini. Israel adalah negara kecil (merebut tanah dan berusaha menjadi negara tepatnya) di tengah-tengah komunitas Arab Timur Tengah. Israel adalah masyarakat Yahudi yang dikepung orang-orang Arab. Sedangkan Singapura merasa dirinya begitu pula, negara kecil dengan mayoritas etnis Cina yang hidup di kawasan Asia Tenggara dengan etnis mayoritas Melayu Muslim pula.

Di poin terakhir inilah (tentang mayoritas Muslim Melayu), kepentingan Israel, Amerika dan Singapura bertemu, melakukan simbiosis mutualisme, saling menguntungkan, saling memberi manfaat dan memanfaatkan.

Sebetulnya tak ada yang salah jika Singapura mengeruk keuntungan dari kerjasamanya dengan Israel dan Amerika. Negara harus tetap berjalan, dan untuk itu diperlukan biaya yang tidak ringan. Semua kemungkinan capital investment harus digali, dan lebih lanjut dimanfaatkan, dan yang mempunyai peran besar dalam hal ini adalah Israel dan Amerika. Memang tak ada yang salah, selama proses dan pencapaian tidak mengorbankan, melindas, melibas dan melakukan intrik politik yang tidak sehat. Tapi dalam kasus ini tampaknya memang ada yang salah.

Dalam masa-masa kemerdekaan Indonesia, nama Singapura bukan barang baru dalam kosakata intelijen internasional, terutama intelijen Amerika dan Inggris. Lewat Singapura beberapa rencana menghalangi Indonesia merdeka pernah dirilis oleh Kerajaan Inggris.

Saat Republik Indonesia baru seumur jagung, beberapa aspirasi yang tak terakomodasi menjelma menjadi sebuah pemberontakan, baik dari tubuh yang menamakan diri kelompok nasionalis, komunis sosialis, maupun dari kekuatan Islam. Dan salah satu yang menonjol adalah PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatera pada tahun 1958. Sebelumnya, letupan-letupan kecil yang menjadi embrio pemberontakan telah nampak dengan terbentuknya berbagai dewan, di Sumatera khususnya. Ada Dewan Gajah di Sumatera Utara, Dewan Banteng di Sumatera Barat, Dewan Garuda di Sumatera Selatan, dan Dewan Manguni di Sulawesi Utara. Ahmad Husein, Maludin Simbolon, Barlian dan Sumual adalah tokoh-tokoh dari berbagai dewan tersebut.

Riak-riak aspirasi yang tak terakomodasi ini kemudian menjelma menjadi gelombang besar, salah satunya adalah –dan ini yang paling dominan—karena pihak luar yang tak menginginkan Indonesia merdeka bermain, membantu membesarkan riak yang kecil baik dengan dana, senjata dan juga informasi-informasi intelijen dan strategi. Dalam sebuah buku yang terbit di London, pada tahun 1961 yang berjudul Rebels in Paradise: Indonesia Civil War, James Mossman menulis, “Bukan rahasia lagi bahwa Inggris dan Amerika Serikat selalu berhubungan dengan kaum pemberontak. Inggris melakukan kontak lewat agennya di Singapura dan Malaysia, dan Amerika lewat Formosa dan Manila.”

Bahkan tak hanya menyokong kaum pemberontak, Amerika dan Inggris khususnya melakukan provokasi terbuka di beberapa wilayah Indonesia bagian timur yang berbatasan langsung dengan Malaysia yang bekas koloni mereka. Dalam buku The Genesis of Malaysia Konfrontasi: Brunei and Indonesia 1945 – 1965 karya Greg Poulgrain Anda akan menemui banyak data yang saya kutip serba sedikit dalam paragrap ini. Inggris tak mau kemerdekaan yang diraih oleh bangsa Indonesia mempengaruhi negara-negara jajahannya yang berbatasan langsung dengan Indonesia seperti Malaysia, Singapura dan juga Brunei. Sebab, jika di ketiga negara ini kemerdekaan Indonesia menjadi inspirasi, rakyat akan menuntut kemerdekaan yang sama dan jelas ini sama artinya Inggris akan kehilangan tambang uang. Karena tak rela kehilangan tambang uang inilah Inggris melakukan beberapa provokasi langsung di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Riau. Pada tahun 1964 saja tercatat 213 provokasi yang dilancarkan pihak Inggris di beberapa wilayah tersebut di atas.

Tentang keterlibatan Singapura, Audrey R. Kahin dan George McTurnan Kahin dalam Subversion as Foreign Policy, The Secret Eisenhower and Dulles Debacle in Indonesia menyebut Singapura sebagai sentral kendali di Asia Tenggara. “Singapura juga salah satu pusat pengendalian kekuasaan regional baik dengan intelijen maupun dengan pemasokan senjata dan serdadu.”

Waktu berjalan lagi, komunis tak mendapat tempat di Indonesia dan Islam meski tidak secara politis menguat dengan signifikan dan menjadi mayoritas dari tahun ke tahun. Konstalasi foreign relation yang tadinya Inggris, Amerika, dan Singapura pun berganti menjadi Amerika, Israel dan Singapura. Apalagi setelah Israel terlibat aktif dan sangat dalam pada pembentukan sistem pertahanan dan pasukan bersenjata milik Singapura. Maka tak berlebihan jika ada yang menyebutkan bahwa Singapura, sejatinya adalah satelit, bahkan kepanjangan tangan Israel di Asia Tenggara.

Sumber: www.eramuslim.com

Taken from: http://www.akhirzaman.info/nasional/ipoleksosbud/2078-menguak-cinta-rahasia-antara-israel-dan-singapura.html

Reblogged from .c.h.i.d.u.a.:

Konflik Palestina - Israel menurut sejarah sudah 31 tahun ketika pada tahun 1967 Israel menyerang Mesir, Yordania dan Syria dan berhasil merebut Sinai dan Jalur Gaza (Mesir), dataran tinggi Golan (Syria), Tepi Barat dan Yerussalem (Yordania). Sampai sekarang perdamaian sepertinya jauh dari harapan. Ditambah lagi terjadi ketidaksepakatan tentang masa depan Palestina dan hubungannya dengan Israel di antara faksi-faksi di Palestina sendiri.

Read more… 3.481 more words

ada pepatah kalo ada asap pasti ada api... kalo ada konflik israel vs palestina, pasti ada penyebabnya... mungkin info ini bisa memberi gmbaran mengenai konflik tak berujung ini... saya cuman share aja... thanks for the writer Chichi Utami

be yourself n do your best

Kutipan  —  Posted: November 28, 2012 in Uncategorized

BAB I
PENDAHULUAN
 
1.1              Latar Belakang
Global Warming atau Pemanasan Global merupakan isu yang paling sering dibahas oleh forum dunia dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Hal ini sangat krusial karena manusia di dunia mulai menyadari bahwa alam sebagai penunjang hidupnya beserta makhluk hidup lainnya kini mulai mengalami degradasi menuju kehancuran. Bahkan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengeluarkan persetujuan untuk menanggulangi hal ini dengan mengenalkan pilar pendidikan yang kelima, yaitu how to live sustainably (bagaimana hidup berkelanjutan) (Dantes, 2009). Dengan adanya perubahan paradigma pendidikan di dunia, PBB berharap para generasi mendatang lebih peka terhadap isu lingkungan.
Dengan melihat fenomena ini, penulis mencoba untuk berargumen tentang sebuah landasan pendidikan yang menekankan bagaimana manusia selayaknya hidup berdampingan dengan alam lingkungannya. Penulis mengajukan Tri Hita Karana sebagai sebuah landasan pendidikan. Penulis melihat bahwa konsep Tri Hita Karana sejalan dengan apa yang telah diamanatkan PBB untuk hidup selaras dengan alam lingkungannya. Sebenarnya Tri Hita Karana adalah sebuah falsafah hidup yang telah lama ada dan berkembang di Bali. Falsafah hidup ini mengedepankan keselarasan hidup manusia dengan Tuha, alam lingkungannya dan dengan sesame manusia. Di Bali,  filosofi ini telah diwariskan turun temurun melalui berbagai aplikasi kehidupan sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN
 
2.1 Pengertian Tri Hita Karana
Istilah Tri Hita Karana pertama kali muncul pada tanggal 11 Nopember 1966, pada waktu diselenggarakan Konferensi Daerah I Badan Perjuangan Umat Hindu Bali bertempat di Perguruan Dwijendra Denpasar (babad bali.com).  Konferensi tersebut diadakan berlandaskan kesadaran umat Hindu akan dharma-nya untuk berperan serta dalam pembangunan bangsa menuju masyarakat sejahtera, adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Kemudian istilah Tri Hita Karana ini berkembang, meluas, dan memasyarakat.
Secara leksikal Tri Hita Karana berarti tiga penyebab kesejahteraan.
Tri              = tiga
Hita           = sejahtera
Karana       = penyebab
Pada hakikatnya Tri Hita Karana mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan itu, bersumber pada keharmonisan hubungan antara:
ü  Manusia dengan Tuhannya.
ü  Manusia dengan alam lingkungannya.
ü  Manusia dengan sesamanya.
Unsur- unsur Tri Hita Karana ini meliputi:
ü  Sanghyang Jagatkarana (Tuhan Yang Maha Esa)
ü  Bhuana (Alam Semesta)
ü  Manusia
 
Hakikat Tri Hita Karana  mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan yang bersumber pada keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan nya, manusia dengan alam lingkungannya, dan manusia dengan sesamanya. Hubungan manusia dengan Tuhan dikenal dengan istilah Parahyangan. Hubungan manusia dengan alam lingkungannya dikenal dengan istilah Palemahan. Sedangkan, hubungan manusia dengan sesamanya dikenal dengan istilah Pawongan. Prinsip pelaksanaannya harus seimbang, selaras antara satu dan lainnya. Apabila keseimbangan tercapai, manusia akan hidup dengan mengekang diri pada segala tindakan berekses buruk. Hidupnya akan seimbang, tenteram, dan damai. Contohnya, hubungan antara manusia dengan alam lingkungan perlu terjalin secara harmonis, bilamana keharmonisan tersebut di rusak oleh tangan-tangan jahil, bukan mustahil alam akan murka dan memusuhinya.
 
2.3 Penerapan Tri Hita Karana dalam Masyarakat Bali
Penerapan Tri Hita Karana dalam kehidupan umat Hindu di Bali dapat dijumpai dalam perwujudan:
1.      Parhyangan (hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa)
Penerapan konsep Parahyangan dalam masyarakat Hindu di Bali dibuktikan dengan adanya tempat suci dalam tiap tingkat daerah. Untuk di tingkat provinsi/kabupaten berupa Kahyangan Jagat. Di tingkat desa adat berupa Kahyangan desa atau Kahyangan Tiga. Di tingkat keluarga berupa pemerajan atau sanggah.
2.      Pelemahan (hubungan manusia dengan alam lingkungannya)
Konsep Palemahan diterapkan dengan cara mempertanggungjawabkan kelestarian alam lingkungannya yang terbatas dalam wilayah tertentu. Tanggungjawab ini diemban oleh masyarakat dalam satuan wilayah tersebut. Pelemahan di tingkat daerah meliputi wilayah Propinsi Bali. Di tingkat desa adat meliputi “asengken” bale agung. Di tingkat keluarga meliputi pekarangan perumahan. Contoh nyata dari penerapan konsep ini adalah adanya awig-awig dalam suatu desa yang melarang penebangan hutan secara liar. 
3.      Pawongan (hubungan manusia dengan sesamanya)
Konsep Pawongan juga dibatasi oleh wilayah dan kewenangan yang diperoleh oleh masyarakat dalam batas wilayah tertentu. Pawongan untuk di tingkat daerah meliputi umat Hindu di Bali. Untuk di desa adat meliputi krama desa adat. Tingkat keluarga meliputi seluruh anggota keluarga. Hal ini bisa dilihat secara nyata dengan adanya tradisi Ngopin (membantu sesama dengan tulus ikhlas) dalam masyarakat Hindu di Bali.
 
2.2 Tri Hita Karana dalam Perspektif Dunia
Menurut Bhagawan Dwija (2007), seorang pandita dari Griya Tamansari Lingga, Banyuasri, Singaraja berpendapat bahwa Tri Hita Karana telah diaplikasikan di seluruh dunia, dalam berbagai bentuk aktivitas, oleh perorangan, kelompok, negara bahkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tentu saja tidak menggunakan istilah Tri Hita Karana. Tetapi yang penting manusia sedunia telah menyadari bahwa kebenaran konsep itu telah terbukti. Berbagai contoh dapat dikemukakan, misalnya manusia tak akan hidup tenteram bila keyakinan akan adanya kemahakuasaan Tuhan goyah. Manusia juga tidak akan merasa tenteram dan damai bila terjadi konflik antarumat manusia, baik dalam bentuk peperangan maupun aksi-aksi teror. Manusia juga menyadari bahwa apabila ia merusak alam maka ia akan menjadi korban bencana alam. Berbagai organisasi tingkat regional, nasional, dan internasional telah dibentuk untuk mewujudkan Tri Hita Karana secara keseluruhan maupun sektoral.
Kita mengenal adanya WHO, Red Cross, Green Peace, Dewan Keamanan PBB, Pasukan Perdamaian PBB, dan lain-lain. Tri Hita Karana dalam aplikasinya oleh penduduk non-Hindu-Bali, berdiri sendiri. Artinya,  tidak berkaitan dengan konsep-konsep lainnya seperti Tri Murti, Tri Kahyangan, dan Trikaya Parisudha. Banyak pertanyaan yang bisa timbul karena ketidakterkaitan itu. Ini disebabkan setiap unsur Tri Hita Karana ciptaan Mpu Kuturan terjalin dan terkait satu dengan lain. Misalnya kiprah manusia untuk menjaga kelestarian alam didasarkan pada rasa bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa), dengan tujuan pencapaian kesejahteraan bagi sesama krama desa pakraman. Dalam aplikasi Tri Hita Karana secara global, belum tentu unsur-unsurnya berkaitan erat seperti itu. Misalnya kelompok pencinta penyu melindungi populasi penyu agar tidak punah. Tetapi perlu ditanyakan, apakah kegiatannya itu didasari oleh rasa bakti kepada Tuhan YME, serta untuk mewujudkan kesejahteraan umat manusia.
Selain itu, Anak Agung Gde Agung, seorang tokoh keturunan kerajaan Gianyar, pada tahun 2007, juga mengatakan bahwa Tri Hita Karana sebenarnya sudah ada dan berkembang dari zaman dahulu di dunia, hal ini bisa dilihat dari kutipan pendapat beliau berikut:
“Konsep kosmologi keseimbangan ini sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu kala. Sejumlah pakar mengenai kosmologi seperti Prof Dr Plaskow dan Christ dari India, Prof Dr Haverkort dari Peru, Prof Dr Millar dari Ghana, Prof Dr Ghimire dari Nepal, Prof Dr Gonese dari Zimbabwe, dan Prof Dr Slikkerveer yang pernah meneliti di Indonesia dalam dialog internasional itu mengakui bahwa konsep itu sebenarnya sudah ada dalam tradisi dan kebudayaan masyarakat setempat. Mereka sepakat bahwa pada dasarnya, konsep keseimbangan itu adalah ajaran-agama-agama. Kebetulan dalam ajaran Hindu di Bali, Indonesia, konsep itu dikenal dengan Tri Hita Karana.”
Beliau juga berhasil mengenalkan konsep Tri Hita Karana ini ke kancah dunia melalui disertasinya yang berjudul Bali Endangered Paradise? Tri Hita Karana and the Conservation of the Island’s Biocultural Diversity, yang dinilai para profesor di Universitas Leiden, Belanda, sebagai konsep terobosan yang dapat diterapkan secara universal di berbagai kebudayaan dunia yang dilanda krisis global dewasa ini.
Sehingga, bisa dikatakan bahwa konsep Tri Hita Karana adalah sebuah konsep yang bersifat lokal universal. Dimana konsep local genius ini bisa diterapkan secara universal di seluruh dunia dalam mengatasi masalah global dewasa ini yang sejatinya bersumber dari sifat individualistis dan materialistis.
 
2.2 Tri Hita Karana Sebagai Sebuah Landasan Pendidikan
Setelah melihat berbagai aplikasi Tri Hita Karana dalam masyarakat Bali, penulis mencoba untuk melihat nilai-nilai Tri Hita Karana tersebut dalam pengaplikasiannya sebagai sebuah landasan pendidikan.
a.       Hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (Parahyangan)
Dengan konsep ini diharapkan nantinya semua proses pendidikan akan dilandasi oleh kesadaran akan kuasa Tuhan yang tak terbantahkan. Sehingga nantinya diharapkan anak didik yang dihasilkan menjadi insan spiritual yang selalu mengedepankan ajaran Agama sebagai dasar menjalani hidup. Hal ini senada dengan tujuan pendidikan Indonesia yang tertuang pada Undang-undang No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional terutama pada pasal 3. Dalam pasal 3 tersebut disebutkan bahwa:
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
      Dalam pasal tersebut dengan jelas ditegaskan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah membentuk watak peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
b.      Hubungan manusia dengan alam lingkungannya (Palemahan)
Selain menyelaraskan hidup dengan melandaskan pada ajaran Agama serta berdampingan dengan manusia lainnya, manusia juga harus bisa hidup selaras dengan alam lingkungannya. Jika, manusia tidak menyelaraskan hidupnya dengan alam, maka alam akan balik merugikan. Hal ini bisa dilihat dengan adanya ancaman global warming yang sedang menjadi isu dunia. Manusia terlalu serakah mengeksploitasi kekayaan alam di dunia tanpa memikirkan keberlangsungan kehidupan alam itu sendiri. Contohnya lainnya adalah, penebangan hutan yang terlalu dibebaskan, sehingga mengakibatkan banjir terhadap penduduk di hilir sungai karena tidak adanya resapan air di hulu. Oleh karena itu, manusia harus bisa menyelaraskan hidupnya dengan alam agar alam juga bisa tetap lestari dan mampu menopang kehidupan manusia dalam jangka waktu yang panjang. Dengan konsep Palemahan anak didik diharapkan nantinya memiliki kesadaran yang tinggi untuk melestarikan alam lingkungannya.
c.       Hubungan manusia dengan manusia (Pawongan)
Pada hakekatnya manusia adalah mahkluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa kehadiran manusia lainnya dalam suatu komunitas. Oleh karena itu, manusia harus bisa hidup bermasyarakat dengan harmonis di dalam komunitasnya. Agar bisa hidup berdampingan dengan harmonis, maka manusia itu pun perlu belajar menjadi manusia yang memiliki rasa sosial yang tinggi. Melalui konsep Pawongan ini diharapkan peserta didik akan belajar menjadi insan manusia yang berjiwa sosial tinggi. Sehingga nantinya bisa bermasyarakat dengan baik. Hal ini senada dengan Komisi Internasional bagi Pendidikan Abad ke 21 yang dibentuk oleh UNESCO yang telah melaporkan bahwa di era global ini pendidikan dilaksanakan dengan berstandar pada empat pilar pendidikan, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together (Delors, 1996; dalam Dantes, 2009). Kita bisa lihat disini bahwa belajar untuk hidup berdampingan dengan orang lain (learning to live together) menjadi perhatian dunia.
 
Dengan menerapkan Tri Hita Karana yang merupakan kearifan lokal (local genius) masyarakat Bali sebagai sebuah landasan pendidikan, diharapkan peserta didik akan menjadi manusia seutuhnya. Dimana mereka akan menjadi insan yang hidup berlandaskan ajaran agama, memiliki nilai-nilai sosial yang mampu membuat mereka membentuk masyarakat yang damai, serta sadar akan keberlangsungan alam lingkungannya. 
Dengan menerapkan falsafah tersebut diharapkan juga dapat menggantikan pandangan hidup modern yang lebih mengedepankan individualisme dan materialisme. Membudayakan Tri Hita Karana akan dapat memupus pandangan yang mendorong konsumerisme, pertikaian dan gejolak yang dewasa ini terjadi.

 

BAB III
PENUTUP
 
3.1 Kesimpulan
            Tri Hita Karana  mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan yang bersumber pada keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan nya, manusia dengan alam lingkungannya, dan manusia dengan sesamanya. Hubungan manusia dengan Tuhan dikenal dengan istilah Parahyangan. Hubungan manusia dengan alam lingkungannya dikenal dengan istilah Palemahan. Sedangkan, hubungan manusia dengan sesamanya dikenal dengan istilah Pawongan.
Aplikasi Tri Hita Karana sebagai sebuah landasan pendidikan dapat dilihat sebagai berikut:
a.       Hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (Parahyangan)
Dengan konsep ini diharapkan nantinya semua proses pendidikan akan dilandasi oleh kesadaran akan kuasa Tuhan yang tak terbantahkan. Sehingga nantinya diharapkan anak didik yang dihasilkan menjadi insan spiritual yang selalu mengedepankan ajaran Agama sebagai dasar menjalani hidup. Hal ini senada dengan tujuan pendidikan Indonesia yang tertuang pada Undang-undang No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional terutama pada pasal 3.
b.      Hubungan manusia dengan manusia (Pawongan)
Pada hakekatnya manusia adalah mahkluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa kehadiran manusia lainnya dalam suatu komunitas. Oleh karena itu, manusia harus bisa hidup bermasyarakat dengan harmonis di dalam komunitasnya. Agar bisa hidup berdampingan dengan harmonis, maka manusia itu pun perlu belajar menjadi manusia yang memiliki rasa sosial yang tinggi. Melalui konsep Pawongan ini diharapkan peserta didik akan belajar menjadi insan manusia yang berjiwa sosial tinggi. Sehingga nantinya bisa bermasyarakat dengan baik.
c.       Hubungan manusia dengan alam lingkungannya (Palemahan)
Manusia juga harus bisa hidup selaras dengan alam lingkungannya. Jika, manusia tidak menyelaraskan hidupnya dengan alam, maka alam akan balik merugikan. Oleh karena itu, manusia harus bisa menyelaraskan hidupnya dengan alam agar alam juga bisa tetap lestari dan mampu menopang kehidupan manusia dalam jangka waktu yang panjang. Dengan konsep Palemahan anak didik diharapkan nantinya memiliki kesadaran yang tinggi untuk melestarikan alam lingkungannya.
3.2 Saran
            Melalui makalah ini, penulis mempunyai beberapa saran mengenai Tri Hita Karana sebagai sebuah landasan pendidikan, seperti:
1.      Penulis berharap agar Tri Hita Karana bisa dijadikan sebagai sebuah alternatif landasan pendidikan bagi para pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan.
2.      Adanya sebuah pilot project yang menggunakan Tri Hita Karana sebagai sebuah konsep dalam menjalankan suatu pendidikan. Hal ini akan bermuara pada arah kebijakan pendidikan yang lebih memihak kepada pembentukan manusia yang lebih sempurna. Bali menjadi kandidat yang baik untuk melaksanakan poyek tersebut karena adanya dukungan dari unsur masyarakat yang mana telah kenal dengan baik akan konsep ini.
3.      Penulis berharap konsep Tri Hita Karana bisa diaplikasikan di sekolah-sekolah, khususnya di Bali.

 

 
DAFTAR PUSTAKA
 
Agung, Anak Agung Gde.2007.Tri Hita Karana Sebagai Solusi Global Warming. Tersedia pada: suarapembaruan.co.cc/News/2009/04/19/Profil/pro01.htm Diakses pada tanggal 24 Januari 2011
 
Antari, Sang Ayu Made Dwi .2008. Ngayah dalam Kehidupan Beragam di Banjar. Tersedia pada:
Diakses pada tanggal 23 januari 2011
 
Dantes, I Nyoman.2009.Pendidikan Teknohumanistik (Suatu Rangkaian Perspektif dan Kebijakan Pendidikan dalam Menghadapi Tantangan Global).WordPress.
 
Dwija, Bhagawan.2007.Tri Hita Karana, Relevansinya Antisipasi Perubahan Iklim Dunia. Tersedia pada: www.balipost.co.id/balipostcetaK/2007/10/31/op2.htmDiakses pada tanggal 23 Januari 2011.
 
Sukolaras.2009.Tri Hita Karana. Tersedia Pada:sukolaras.wordpress.com/2009/03/30/tri-hita-karana/ Diakses pada tanggal 23 Januari 2011
 
Wastika, Dewa Nyoman.2005.Penerapan Konsep Tri Hita Karana Dalam Perencanaan Perumahan Di Bali. Tersedia pada:  ejournal.unud.ac.id/abstrak/2.%20wastika%20-%20%20konsep%20tri%20hita%20karana.pdf Diakses pada tanggal 23 januari 2011
 
Windia, Wayan., Pusposutardjo, Suprodjo., Sutawan, Nyoman., Sudira, Putu., & Arif , Sigit
Supadmo.Sistem irigasi subak dengan landasan tri hita karana (thk) sebagai teknologi sepadan dalam pertanian Beririgasi. Tersedia pada:ejournal.unud.ac.id/abstrak/(17)%20soca-windia-sistem%20subak(1).pdf Diakses pada tanggal 23 Januari 2011
 
www.babadbali.com/canangsari/trihitakarana.htm Diakses pada tanggal 23 Januari 2011
 
 
 

Sampingan  —  Posted: November 28, 2012 in Uncategorized

Ada Brigade 200K di Pertamina

Posted: November 28, 2012 in Uncategorized

Reblogged from Catatan Dahlan Iskan:

Senin, 26 November 2012
Manufacturing Hope 53

Malam Minggu kemarin bukan malam untuk hura-hura bagi direksi Pertamina. Malam itu mereka berkumpul di suatu tempat untuk menandai dimulainya pekerjaan besar yang rumit: menaikkan produksi minyak 200.000 barel per hari dalam waktu dua tahun!

Tekad itu seperti mengada-ada. Seperti menggantang asap. Tapi, Dirut Pertamina Karen Agustiawan, Direktur Hulu Muhamad Husen, Komisaris Utama Sugiharto, Komisaris Luluk Sumiarso, Dirut Pertamina EP Syamsu Alam, dan hampir 200 generasi muda Pertamina sudah membulatkan satu tekad: kerja keras mewujudkannya.

Read more… 932 more words

sebuah fenomena percintaan anak muda Bali diangkat apik oleh mercy band melalui lagu ini… sooo deeppp… great…

 

Mercy Band  Sisan Timpal

 

Intro : Am C Dm F Am

C              Dm
Beli sing peduli diastun liu
F                                Am
Timpal beline teke nyelek-nyelekan adi
C                     Dm
Ngorang ipidan adi jlema nakal
F                          Am
Selegenti timpal beline ngaku makatang

C                   Dm
Diolas percaye kapining beli
F                            Am
To mekejang suba anggap beli angin berlalu
C                     Dm
Ne penting jani masa lalu adi
F
Ne suba liwat depang to angon pelajahang

Intro : Am C Dm F
Solo Melodi

(*)
Am                 C                         Dm
Beli sing kal nyesel ngelahang adi
F                              Am
Diastun mare bakat suba tusing perawan
C                    Dm
Maklum irage mare ketemu
F                                     Am
Disubane benyah layu keincuk timpal

C                      Dm
Yen mula tresna sing dadi nuntut
F                               Am
Pasti rage siap nerima ape kekurangan ne
C                    Dm
Ne penting jani saling percaye
F                             Am
Bise ngajiang tresna ento, ane utama

 
Reff :
C              Dm
Oh bulan, oh bintang
F                         Am
Saksiang je tiang dini metembang
C                          Dm
Diastun tunang tiang suba sisan timpal
F                          Am
Tiang tulus nerima tetep satia tur sayang

Intro : C Dm F Am C Dm F Am C Dm F
Solo Melodi

Back to : (*)

C                             Dm

ooO bajang-bajang jak mekejang
F                          Am
Mai mekumpul dini sareng ragan titiang
C                            Dm
Tusing perlu sebet atau buin maseselan
F
Perawan boya to angon ukuran

~end~

Seminggu belakangan ini saya lagi demam Mr. DI (Dahlan Iskan). Pertama kali mendengar namanya adalah ketika makan malam bersama teman di Pelabuhan Buleleng. Di tempat bersejarah perlawanan rakyat Bali melawan Kompeni ini kami menikmati makan malam seadanya. Kami ber-4, 2 cowok  2 cewek. Salah astu dari mereka (cewek) yang baru saya kenal dengan menggebu-gebu menceritakan tentang Mr.DI. Dia adalah seorang pemilik sekolah baru dan berkepribadian menarik. Dia mudah bergaul dan seperti memiliki keahlian untuk meyakinkan orang. Saya bengong saja mendengar ceritanya. Satu poin yang bisa saya ambil adalah DI bukan orang sembarangan. Sebenarnya saya ingin mengetahui lebih jauh tentang DI, tapi karena saya bukan orang yang tekun, keesokan harinya sudah lupa dengan apa yang kami bicarakan.

Tapi seminggu lalu ingatan itu kembali muncul ketika dengan tidak sengaja nge-browse internet mencari hal-hal yang unik. Eh… ternyata Mr. DI adalah hal unik yang saya cari selama ini. Dia seperti barang antik; langka, berharga dan bergaya. Langka karena beliau adalah panutan yang perlu digugu, ditiru dan dipertahankan (dalam hal etos kerja dan profesionalisme). Berharga karena Indonesia beruntung memilikinya. Bagaimana tidak, coba saja lihat PLN dapat disembuhkan dari penyakit kronis byar pet hanya dalam waktu 1 tahun!!! Oleh karena itu, Mr. DI adalah permata yang perlu dijaga bersama (dari pengaruh politik). Bergaya karena beliau tidak seperti pemimpin lainnya yang terpaku pada aturan-aturan yang terlalu ribet dan tidak berinisiatif dalam mengembangkan lembaganya. Menurut saya Mr. DI sangat kreatif dalam menyelesaikan masalah yang membelit tiap perusahaan yang dia tangani. Saya sangat optimis puluhan BUMN di negeri ini akan dibawa menapak masa kejayaan dibawah kepemimpinanya. Selain itu, gayanya berbusana yang membumi menempatkan dirinya sebagai sosok yang sederhana namun brilian. Sosok pemimpin impian.

Banyak hal positif yang bisa diambil dari buah pena Mr. DI. Sekarang, blog beliau ( http://dahlaniskan.wordpress.com/berita-dahlan-iskan/ ) adalah menu wajib yang harus saya baca tiap minggu. Beliau berhasil mengembalikan kepercayaan diri saya tentang kebesaran bangsa ini. Melalui tulisannya saya percaya Indonesia mempunyai harapan untuk menjadi yang terbaik (at least) untuk dirinya sendiri. Thanks Mr DI.